Kita sering berdecak kagum pada sistem kompleks buatan manusia. Kode jutaan baris yang menjalankan jejaring sosial global, algoritma yang bisa merekomendasikan film dengan akurat, atau arsitektur cloud computing yang menopang ekonomi digital. Semuanya adalah mahakarya logika.
Namun, pernahkah Anda berpikir bahwa peradaban yang paling tangguh dalam sejarah juga dibangun di atas sebuah ‘kode’? Sebuah sistem arsitektur yang dirancang bukan untuk satu aplikasi, melainkan untuk seluruh umat manusia, di setiap zaman.
Hari ini, dari “Perspektif Rama”, kita akan melakukan sesuatu yang berbeda. Kita akan coba belajar konsep sistem yang paling fundamental, dengan melihat kitab suci dan tuntunan Nabi bukan dari kacamata seorang teolog, melainkan dari kacamata seorang system architect.
Mendefinisikan Ulang ‘Sistem’ dan ‘Kode’
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu sepakati definisi. Lupakan sejenak tentang bahasa pemrograman. Mari kita definisikan ‘sistem’ sebagai seperangkat aturan dan proses logis yang dirancang untuk mencapai hasil yang adil, efisien, dan dapat diprediksi.
Dengan definisi ini, kita akan melihat bahwa Islam, sebagai sebuah dien (jalan hidup), adalah sebuah Master System yang paling komprehensif.
Al-Qur’an sebagai Kernel (Inti Sistem Operasi) yang Abadi
Setiap sistem operasi yang tangguh, seperti Linux atau Windows, memiliki sebuah kernel—inti yang paling fundamental, paling dilindungi, dan menjadi dasar bagi semua fungsi lainnya. Kernel ini bersifat sakral dan tidak bisa diubah oleh sembarang program.
Dalam arsitektur peradaban Islam, Al-Qur’an adalah Kernel-nya. Ia berisi deklarasi fungsi-fungsi absolut (perintah dan larangan), konstanta (prinsip-prinsip aqidah), dan aturan-aturan dasar yang menjadi single source of truth (sumber kebenaran tunggal). Sifatnya immutable (abadi dan tidak bisa diubah), dijamin langsung oleh Sang Arsitek Agung.
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9)
Inilah fondasi utama untuk belajar konsep sistem yang kokoh. Sebuah sistem yang baik harus memiliki inti yang stabil, tidak berubah-ubah oleh tren atau zaman.
As-Sunnah sebagai API Documentation & Library Terlengkap
Sebuah kernel saja tidak cukup. Seorang developer butuh panduan untuk bisa berinteraksi dengan kernel tersebut. Mereka butuh API (Application Programming Interface) Documentation dan library fungsi yang siap pakai.
Di sinilah As-Sunnah—segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah SAW—memainkan perannya. Jika Al-Qur’an sebagai Kernel memberikan perintah dirikanlahShalat(), maka Sunnah adalah dokumentasi API-nya yang sangat lengkap:
- Parameter: Menjelaskan syarat sah shalat.
- Proses: Menjelaskan rukun dan tata caranya, dari takbir hingga salam.
- Contoh Kasus (Use Case): Menunjukkan bagaimana shalat dilakukan saat bepergian (qashar/jama’), saat sakit, atau dalam kondisi perang.
- Best Practices: Menjelaskan amalan-amalan sunnah untuk menyempurnakan fungsi utama.
Tanpa “dokumentasi” dari Sunnah, kita hanya akan memiliki perintah abstrak tanpa tahu cara mengimplementasikannya. Keduanya adalah satu paket yang tak terpisahkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik)
Ijtihad Ulama sebagai Framework & SDK (Software Development Kit)
Dunia terus berubah. Muncul masalah-masalah baru yang tidak ada secara eksplisit di zaman Nabi: transaksi e-commerce, bayi tabung, hingga isu kecerdasan buatan. Apakah sistem ini lantas menjadi usang?
Tentu tidak. Sistem yang baik dirancang untuk bisa diperluas (extensible). Di sinilah peran Ijtihad para ulama. Dengan menggunakan source code (Al-Qur’an) dan library (Sunnah) yang sudah ada, mereka membangun “solusi” atau “aplikasi” baru untuk tantangan zaman.
Ini persis seperti para developer modern yang menggunakan framework atau SDK (Software Development Kit). Mereka tidak mengubah kernel atau bahasa pemrograman dasarnya. Sebaliknya, mereka menggunakan kerangka kerja dan alat yang tersedia untuk membangun aplikasi canggih yang menjawab kebutuhan masa kini, sambil tetap patuh pada aturan-aturan fundamental dari sistem utamanya.
Kesimpulan Melihat Islam dari kacamata seorang arsitek sistem membuka sebuah perspektif baru yang menakjubkan. Kita tidak hanya melihatnya sebagai kumpulan ibadah ritual, tapi sebagai sebuah Master System yang dirancang dengan sempurna.
Ia memiliki kernel (Al-Qur’an) yang terjaga keabadiannya, dokumentasi API (As-Sunnah) yang paling lengkap, dan framework (Ijtihad) yang memungkinkannya untuk terus relevan di setiap zaman. Dengan memahami arsitektur ini, kita bisa belajar konsep sistem yang paling fundamental: sebuah sistem yang hebat harus memiliki keseimbangan sempurna antara inti yang kokoh dan kemampuan untuk beradaptasi.
